Kebanyakan manusia mengira bahwa hukum Tuhan justru
memperkenalkan dosa sehingga manusia menjadi “berkehendak” untuk mendekati dan
melakukannya, sehingga mereka mencari “jalan” untuk harus keluar dari ikatan
itu.
Mereka berasumsi, jika Tuhan melarang mencuri maka
sesungguhnya Tuhan telah memperkenalkan “tindak kejahatan pencurian” sehingga
manusia cenderung melakukannya. Begitu pula jika Tuhan melarang untuk melakukan
“penipuan”, maka mereka berkata bahwa sesungguhnya Tuhan telah memperkenalkan
penipuan kepada manusia. Untuk melengkapi asumsi itu, maka mereka memilih
semboyan : “Lakukanlah apa yang engkau suka
jika manusia melakukannya kepadamu”.
Semboyan itu sungguh menggiurkan hati, tapi tanpa kita sadari
bahwa sesungguhnya ia memfokuskan ukuran
kebaikan terletak pada “keinginan” manusia dan bukan lagi pada
kehendak Tuhan.
Lihatlah bahwa semboyan itu mengajarkan manusia untuk :
1.
berupaya
menyanjung sesamanya, karena ia ingin disanjung;
2.
berupaya
bermulut manis, karena ia ingin disapa dengan manis;
3.
berupaya
menyogok, karena ia ingin disogok;
4.
berupaya
berbuat baik, karena ia ingin diperlakukan dengan baik;
5.
berupaya
menggoda orang lain, karena ia ingin digoda oleh orang lain;
6.
dst, dst.
Sehingga perbuatan manusia semua terfokus pada “keinginan”
yang saling berkaitan satu sama lainnya, tanpa menghiraukan kehendak dari sang
Pencipta.
Lalu, semboyan apa yang harus dijunjung tinggi? Bukankah
semboyan yang demikian itu sanggup menciptakan kedamaian satu sama lain? Tidak!
Semboyan itu hanya terfokus pada ikatan manusia terhadap manusia, tanpa
kepedulian akan ikatan kepada Tuhan.
Lalu bagaimana semboyan yang lebih baik agar menjadi
seimbang? Semboyannya adalah : “Lakukanlah apa yang disukai Tuhanmu”. Pada semboyan
ini, ukuran kebaikan bukan terletak pada “kehendak” manusia, melainkan terletak
pada “kehendak” Tuhan. Namun, bagaimana kita tahu tentang “kesukaan” Tuhan?
“SAUDARAKU, ANDA MENGENAL “KEHENDAK” TUHAN PADA HUKUM-HUKUM YANG DIA TETAPKAN”.
Lihatlah bahwa semboyan ini mengajarkan bahwa :
1.
Tuhan
menyukai manusia yang adil, maka lakukanlah! karena Tuhan menyukainya!
2.
Tuhan
menyukai manusia yang menjaga tangan dan lidahnya, maka lakukanlah! karena
Tuhan menyukainya!
3.
Tuhan
menyukai manusia yang tidak mempersekutukan Tuhan, maka lakukanlah! karena
Tuhan menyukainya!
4.
Tuhan
menyukai manusia yang penuh dengan kasih sayang, maka lakukanlah! karena Tuhan
menyukainya!
5.
Tuhan
menyukai manusia yang tidak melakukan kerusakan di muka bumi, maka lakukanlah!
karena Tuhan menyukainya!
6.
Dst, dst...
Intinya adalah : “ukuran kebajikan terletak pada apa yang
disukai Tuhan”, sehingga manusia tidak terikat lagi dari ikatan yang
bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Oleh karena itu, kebebasan bukan terletak pada bebasnya
manusia melakukan apa yang disukainya, dan bukan pula terletak pada keinginan
manusia untuk melepaskan diri dari ikatan hukum-hukum Tuhan, melainkan terletak
pada terlepasnya hati dari ikatan duniawi, dan melekatnya hati pada urusan
surgawi. Itulah kebebasan (Freedom) sejati yang harus diperjuangkan oleh setiap
insan untuk diraih dan dimiliki tanpa batas.
Oleh : Al Faqir Billah Realis Akbarullah Gea
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan Pesan, Saran dan Kritik anda yang membangun, walau hanya sepatah, dua patah kata.