Well Come

قـل هو اللــــه احــــــد. اللــــه الصمــــــد. لم يلــد و لم يولــــــد و لم يكــــــن لـــــــــــــــــــــه كفوا احــــــــد

Katakanlah : Dialah Allah, Tuhan yang Maha Esa, Tempat bergantung segala sesuatu, Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada satu pun yang setara dengan Dia (QS. Al Ikhlash)

Selasa, 11 Februari 2014

KEBEBASAN SEJATI



Kebanyakan manusia mengira bahwa hukum Tuhan justru memperkenalkan dosa sehingga manusia menjadi “berkehendak” untuk mendekati dan melakukannya, sehingga mereka mencari “jalan” untuk harus keluar dari ikatan itu. 

Mereka berasumsi, jika Tuhan melarang mencuri maka sesungguhnya Tuhan telah memperkenalkan “tindak kejahatan pencurian” sehingga manusia cenderung melakukannya. Begitu pula jika Tuhan melarang untuk melakukan “penipuan”, maka mereka berkata bahwa sesungguhnya Tuhan telah memperkenalkan penipuan kepada manusia. Untuk melengkapi asumsi itu, maka mereka memilih semboyan : “Lakukanlah apa yang engkau suka jika manusia melakukannya kepadamu”.

Semboyan itu sungguh menggiurkan hati, tapi tanpa kita sadari bahwa sesungguhnya ia memfokuskan ukuran kebaikan terletak pada “keinginan” manusia dan bukan lagi pada kehendak Tuhan.

Lihatlah bahwa semboyan itu mengajarkan manusia untuk :
1.    berupaya menyanjung sesamanya, karena ia ingin disanjung;
2.    berupaya bermulut manis, karena ia ingin disapa dengan manis;
3.    berupaya menyogok, karena ia ingin disogok;
4.    berupaya berbuat baik, karena ia ingin diperlakukan dengan baik;
5.    berupaya menggoda orang lain, karena ia ingin digoda oleh orang lain;
6.    dst, dst.
Sehingga perbuatan manusia semua terfokus pada “keinginan” yang saling berkaitan satu sama lainnya, tanpa menghiraukan kehendak dari sang Pencipta.

Lalu, semboyan apa yang harus dijunjung tinggi? Bukankah semboyan yang demikian itu sanggup menciptakan kedamaian satu sama lain? Tidak! Semboyan itu hanya terfokus pada ikatan manusia terhadap manusia, tanpa kepedulian akan ikatan kepada Tuhan. 

Lalu bagaimana semboyan yang lebih baik agar menjadi seimbang? Semboyannya adalah : “Lakukanlah apa yang disukai Tuhanmu”. Pada semboyan ini, ukuran kebaikan bukan terletak pada “kehendak” manusia, melainkan terletak pada “kehendak” Tuhan. Namun, bagaimana kita tahu tentang “kesukaan” Tuhan? “SAUDARAKU, ANDA MENGENAL “KEHENDAK” TUHAN PADA HUKUM-HUKUM YANG DIA TETAPKAN”.

Lihatlah bahwa semboyan ini mengajarkan bahwa :
1.    Tuhan menyukai manusia yang adil, maka lakukanlah! karena Tuhan menyukainya!
2.    Tuhan menyukai manusia yang menjaga tangan dan lidahnya, maka lakukanlah! karena Tuhan menyukainya!
3.    Tuhan menyukai manusia yang tidak mempersekutukan Tuhan, maka lakukanlah! karena Tuhan menyukainya!
4.    Tuhan menyukai manusia yang penuh dengan kasih sayang, maka lakukanlah! karena Tuhan menyukainya!
5.    Tuhan menyukai manusia yang tidak melakukan kerusakan di muka bumi, maka lakukanlah! karena Tuhan menyukainya!
6.    Dst, dst...

Intinya adalah : “ukuran kebajikan terletak pada apa yang disukai Tuhan”, sehingga manusia tidak terikat lagi dari ikatan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Oleh karena itu, kebebasan bukan terletak pada bebasnya manusia melakukan apa yang disukainya, dan bukan pula terletak pada keinginan manusia untuk melepaskan diri dari ikatan hukum-hukum Tuhan, melainkan terletak pada terlepasnya hati dari ikatan duniawi, dan melekatnya hati pada urusan surgawi. Itulah kebebasan (Freedom) sejati yang harus diperjuangkan oleh setiap insan untuk diraih dan dimiliki tanpa batas. 

Oleh : Al Faqir Billah Realis Akbarullah Gea

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan Pesan, Saran dan Kritik anda yang membangun, walau hanya sepatah, dua patah kata.