Bismillahi ar-rahmani ar-rahiim
Allah SWT berfirman :
64. Katakanlah: "Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. 3:64)
Di antara perbedaan antara Kaum Muslimin atau Ahlul Laa Ilaaha Illallaah dengan Ahlul Kitab itu terdapat pula persamaan konsep awal sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut di atas. Konsep awal tersebut adalah “pengakuan bahwa Tuhan itu adalah Esa adanya”, hanya saja konsep awal tersebut menjadi pudar dan seakan tidak kelihatan lagi ketika dikembangkan menjadi konsep bahwa Tuhan yang Maha Esa “mau” ber-reinkarnasi atau menjadikan sesuatu yang setara, serupa dan segambar dengan Dia.
Dalam kesempatan yang sangat indah ini, pada saat ini juga Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Tuhannya Ibrahim, Ishaq dan Isa Alaihim as-salaam mengajak kita semua untuk kembali kepada Konsep awal, dan meninggalkan cabang-cabang yang akhirnya menyimpang dari kehendak-Nya.
Apakah yang menyimpang itu? Dan tahukan anda yang menyimpang itu? Yang menyimpang itu telah dinyatakan langsung oleh-Nya dalam ajakan tersebut, yaitu : “Mempersekutukan Dia dengan sesuatu”.
Allah SWT yang menciptakan saya, anda, dan seluruh yang ada ini menyatakan dengan tegas bahwa Dia tidak butuh akan segala sesuatu, baik itu Malaikat, Ruh, Hidup atau Mati. Namun bagaimanakah Dia? Dia justru yang menjadi “PENYEBAB” adanya semuanya itu. Kematian, Kehidupan, Ruh, Malaikat, Iblis, Setan dan segala yang lain ada oleh karena Dia. Tanpa Dia maka segala sesuatu tidak akan pernah ada. Siapakah Dia? Dia bukan siapa-siapa, Dia bukan Ruh, Dia bukan yang terdiri dari daging dan ruh melainkan Dia adalah ALLAH, Pencipta semuanya itu.
Allah SWT berfirman :
12. Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah Berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS. 65:12)
24. Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 59:24)
Adakah Allah membutuhkan anda dan saya? Tentu tidak... Dia tiada butuh kepada apa pun juga, melainkan segala sesuatu butuh kepada-Nya. Perhatikanlah pernyataan-Nya berikut ini :
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (QS. 112:2)
Pernyataan-Nya sangat singkat, padat dan jelas... bahwa Allah yang adalah TUHAN SEJATI merupakan tempat bergantungnya segala sesuatu.
Bergantung, apakah bergantung itu? Apakah seperti kelelawar bergantung di dahan? Saudaraku, bergantung di sini adalah “segala sesuatu itu baik yang diterima, diminta dan datang dengan sendirinya atau dengan usaha” semuanya adalah milik Allah semata, yang diizinkan-Nya untuk kita nikmati semua yang dibolehkan-Nya untuk kita. Allah tidak peduli apakah anda seorang yang mu’min atau pun (maaf) kafir, Dia pula tidak peduli yang menerima pemberian-Nya apakah hewan atau manusia...!? Semuanya diberi-Nya sebagai bukti bahwa makhluk yang diadakan-Nya itu benar-benar butuh kepada-Nya.
Sebagai manusia yang berakal, dan yang mau menggunakan akal..., tentu kita berpikir : Jika tuhan yang saya sembah pernah “MEMOHON” baik atas nama dirinya sendiri maupun mewakili orang lain..., apakah pantaskah dianggap sebagai TUHAN? Sedangkan Tuhan bukan PEMOHON melainkan PEMBERI...!!!
Demikian juga jika Tuhan yang saya sembah “MENJELMA” dari Yang MAHA KUAT menjadi SESUATU YANG LEMAH itu dilakukan untuk apa? Agar Dia merasakan apa yang dirasakan yang LEMAH? Apakah anda tidak tahu bahwa DIA MAHA TAHU??? Jika harus MELEMAHKAN DIRI untuk MENGETAHUI, bukankah lebih cocok sebagai seorang RAJA MAJAPAHIT yang ingin menyamar untuk memperhatikan keadaan masyarakat awam??? Nah, Raja Majapahit melakukan itu, karena IA BUKAN MAHA TAHU. Sedangkan Tuhan Sejati MAHA MENGETAHUI SEGALA SESUATU, BAIK YANG NYATA MAUPUN YANG GHAIB-GHAIB.
Di sinilah gunanya “AKAL” itu dimanfaatkan, dan bukan untuk melakukan tipu-tipuan...,
Banyak di antara saudara kita yang menyatakan bahwa “Kita tidak sanggup memikirkan tentang Tuhan, karena otak kita hanya sekepal sedangkan Tuhan Maha Besar”.
Pernyataan ini sangat benar, jika “AKAL” itu kita gunakan untuk menghayalkan bentuk Tuhan dan bentuk-bentuk yang Ghaib... Memang kita tidak sanggup untuk memikirkan RUPA-NYA. Tuhan MAHA BERBEDA DARI APA YANG KITA LIHAT BAIK SEKARANG MAUPUN YANG AKAN DATANG. Kita sangat SALAH BESAR jika kita menggambarkan TUHAN berambut Gondrong, Pirang, Berkumis Tipis dan Berjenggot Panjang..., Kita Sangat Salah Besar, dan Sekali lagi Sangat Salah Besar. Di sanalah Akal Tidak Mampu untuk Bekerja...
Selain itu...???
Allah telah memampukan “AKAL” untuk memikirkannya.
Perhatikan Firman-Nya :
11. (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat. (QS. 42:11)
Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat..., mohon Kritik dan Saran yang membangun, demi kebaikan penulisan di masa-masa mendatang.
Wallahu al muwaffiq ilaa aqwaami ath-thaariq
As-salaamu ‘alaikum wa rahmatu Allahi wa barakatuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan Pesan, Saran dan Kritik anda yang membangun, walau hanya sepatah, dua patah kata.