Di antara manusia, ada yang menganggap bahwa satu-satunya
jalan lurus itu adalah orang yang dikenal bernama : Isa Al Masih putra Maryam
yang suci. Keyakinan ini didasarkan pada sabda Nabi Isa dalam “terjemahan”
Injil Yohanes yang berbunyi : “Akulah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup. Tidak
ada seorangpun yang datang kepada ‘Bapa’
kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6).
Dari sabda tersebut, mereka mengira bahwa tidak ada satu pun
nabi yang berani menyatakan bahwa ia adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup itu
selain dari pada Nabi Isa Al Masih, sehingga wajiblah bagi setiap manusia untuk
mengikuti dan menerimanya sebagai “tuhan” dan juruselamat pribadinya.
Pemahaman ini tentu sangat sempit dan tidak dapat diterima oleh
orang yang menggunakan akalnya tanpa mengkajinya lebih dalam lagi. Sabda Nabi
Isa tersebut, mengajarkan kepada murid-muridnya saat itu bahwa “dialah (Nabi
Isa AS)” satu-satunya jalan yang harus ditempuh untuk bisa “terhubung” dengan Tuhan,
sebagai “super power” dari segala “power” di jagat raya ini.
Penjelasan sabda itu bagi orang yang berakal, tidak
terhenti di situ saja, melainkan harus dikembangkan lagi kepada pemahaman yang
lebih luas dengan “menyorot” apakah yang dimaksudnya sebagai jalan itu apakah “DIRINYA SENDIRI” atau
“AJARAN YANG DIA BAWA”?
Dari pertanyaan tersebut, kita dapat menyediakan dua alternatif
jawaban untuk memahaminya, yaitu :
1. Jika Jalan
yang dimaksudnya adalah DIRINYA SENDIRI
maka : Wejangan-wejangan dan ajaran-ajaran yang dia sampaikan kepada para murid
tidaklah berguna karena telah dihilangkan oleh pengaruh peran dirinya sendiri
dalam mengantarkan para murid kepada sang Tuhan. Di sini, para murid berjiwa
pasif dan hanya bertugas sebagai PENGHARAP belas kasih Isa dalam mengantar
mereka, sekaligus terhenti ketika Isa telah tiada.
2. Jika Jalan
yang dimaksudnya adalah AJARAN YANG
DIBAWANYA maka : PRIBADI nabi Isa Al Masih hanyalah suatu “pembawa”
risalah Tuhan agar dipahami. Ajaran-ajaran dan wejangan-wejangan yang disampaikannya
benar-benar berperan sebagai “petunjuk” untuk melangkahkan kaki menuju sang
Tuhan sehingga barangsiapa yang mendengar dan menaatinya maka ia pasti akan
sampai. Di sini, para murid bersifat AKTIF dan bertugas sebagai “PELAKSANA”
amanat dari ajaran-ajaran yang disampaikan oleh sang Nabi, sekalipun Isa telah
tiada dari antara mereka.
Dari kedua alternatif “jawaban” ini, yang paling berpengaruh dan tepat
dalam pelaksanaannya adalah alternatif yang kedua. Di sana ditegaskan “PERAN
AKTIF” para murid untuk bersungguh-sungguh “mendengar dan mengikuti”
ajaran-ajaran sang Nabi dan tidak dituntut untuk berpangku tangan mengharapkan
untuk “DIANTAR” hingga ke tujuan yang mereka cari.
Jika alternatif yang pertama yang digunakan, maka sungguh ajaran-ajaran yang
disampaikannya tidaklah perlu dipedulikan karena setiap yang mempercayainya
senantiasa MENANTI dan MENGHARAP akan DIBAWA oleh sang Nabi kepada Tuhan yang
mereka cari, asalkan mereka percaya, tetapi di dalam kitabnya, Yakobus menegaskan bahwa Iman
tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah MATI (Yak. 2 : 17).
Oleh karena itu, Jalan yang dimaksud dalam sabda tersebut
adalah “AJARAN-AJARAN” yang telah ia sampaikan kepada para murid untuk ditaati
dan dituruti, sehingga dapat sampai kepada Sang Tuhan yang mereka rindukan itu.
Ketika telah sampai pada tingkat pemahaman ini, maka
seseorang melanjutkan pembahasannya untuk memastikan “ajaran-ajaran” apa
sajakah yang disampaikan Nabi Isa Al Masih semasa ia bersama-sama dengan
murid-muridnya?.
Semasa hidup nabi Isa Al Masih, ajaran-ajaran yang ia
sampaikan pada intinya hanya terdiri dari dua hukum dan satu persaksian sejati,
dimana semua para nabi yang diutus mengajarkan hal yang sama. Adapun kedua
hukum serta satu persaksian sejati itu adalah sebagai berikut :
1.
HUKUM YANG
DUA
Hukum yang dua yang diajarkan Nabi
Isa AS adalah :
a.
Mengasihi
Tuhan dengan sepenuh akal budi
b.
Mengasihi
sesama seperti mengasihi diri sendiri
(Markus 12:30-31)
2.
PERSAKSIAN
SEJATI
Persaksian sejati yang disampaikannya
adalah yang menyatakan bahwa : Kehidupan yang Kekal itu hanya diperoleh dengan
: Mengenal satu-satunya bahwa “Engkau”
(ALLAH) adalah Tuhan yang BENAR dan mengenal bahwa “Yesus Kristus” adalah
utusan-Mu (ALLAH). (Yoh. 17:3)
Pada tahap ini, seseorang telah mulai menyadari bahwa
sesungguhnya “misi” para nabi adalah sama seperti “Misi” Yesus Kristus atau Isa
Al Masih itu, mereka mengajarkan untuk “CINTA” akan TUHAN dengan sepenuh akal
budi dan mengajarkan “Cinta” akan sesama seperti mencintai diri sendiri.
Oleh : Al Faqir Billah Realis Akbarullah Gea.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan Pesan, Saran dan Kritik anda yang membangun, walau hanya sepatah, dua patah kata.