Well Come

قـل هو اللــــه احــــــد. اللــــه الصمــــــد. لم يلــد و لم يولــــــد و لم يكــــــن لـــــــــــــــــــــه كفوا احــــــــد

Katakanlah : Dialah Allah, Tuhan yang Maha Esa, Tempat bergantung segala sesuatu, Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada satu pun yang setara dengan Dia (QS. Al Ikhlash)

Jumat, 24 Agustus 2012

JELEKNYA BERTAKLID BUTA KEPADA NENEK MOYANG

Pada dasarnya manusia terlahir dalam keadaan suci atau fithrah, hanya saja kedua orang tuanyalah yang menjadikan mereka “yahudi, nashrani dan majusi” (Al Hadits)

Tidak luput pula bayi Muslim yang lahir akan berwatak Yahudi, Nashrani dan Majusi ketika mereka tidak dididik dan dilatih sesuai dengan ajaran Fithrah itu.

Apakah Fithrah itu...? Yaitu Ilham yang diterima oleh setiap bayi dari TUHAN SEJATI untuk tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu apa pun juga. Sehingga di mana pun manusia dilahirkan, ia akan cenderung untuk bertuhan. Namun, paham bertuhannya itu akan dikembangkan oleh keluarga dan lingkungannya sendiri.

Lalu apa kiat seorang manusia agar ia sanggup melepaskan diri dari keterkungkungan “IMAN” agar menjadi bisa bebas atau MERDEKA memilih sistem keimanannya yang lurus? Jelas manusia tidak sanggup kecuali dengan memakai akal yang telah dianugerahkan oleh TUHAN kepadanya. Sehingga Rasulullah SAW bersabda bahwa “Agama itu adalah Akal”... tapi bukan AKAL-AKALAN. Artinya, setiap yang berakal wajib baginya menelaah agama agar ia sampai kepada PENCIPTANYA.

Manusia yang tidak mempergunakan akal-nya akan tertelan oleh alam pemikiran taklid keluarga dan lingkungan, sehingga Taklid lebih kuat dibanding akalnya sendiri...

Perhatikan Firman Allah SWT berikut ini :

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". (QS. Al Baqarah 2:170)

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul." Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya." Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. (QS. Al Maidah 5:104)

Allah SWT menyindir mereka yang bertaklid buta ini dengan mengatakan “Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” Jika kita bawa ke dalam bahasa kita yang mudah : “Apakah mereka ikut terjun juga ke jurang, jika nenek moyang mereka terjun ke jurang”...

Jawabannya tentu “TIDAK” jika mereka MEMAKAI AKAL, tapi jika mereka TIDAK memakai AKAL, mereka justru mengatakan... Kan NENEK MOYANG KAMI MEMANG BEGITU... APAKAH KAMI LEBIH HEBAT DARI NENEK MOYANG KAMI, SEHINGGA MENINGGALKAN JEJAK MEREKA?

Allah SWT Berfirman :
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain dari mengatakan: "Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar." (QS. Al Jaatsiyah 45:25)

Ini adalah suatu alasan (maaf) kebodohan individualis yang telah tertanam di dalam pribadi para penaklid buta ini.

Bahkan ketika para ahli taklid disodorkan suatu mu’jizat, mereka justru menyatakan sebagaimana diabadikan Allah dalam Al Quraan sebagai peringatan :

Maka tatkala Musa datang kepada mereka dengan (membawa) mukjizat- mukjizat Kami yang nyata, mereka berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang dibuat-buat dan kami belum pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada nenek moyang kami dahulu." (QS.Al Qashash 28:36)

Di sini jelas betapa kokohnya taklid itu.
Demikian juga ketika Nabi Ibrahim menentang penyembahan berhala yang biasa dilakukan oleh nenek moyang penduduk setempat itu, mereka tetap menjawab dengan jawaban yang serupa :

Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Apakah yang kamu sembah?"  Mereka menjawab: "Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya." Berkata Ibrahim: "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?, atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi kemudharatan?" Mereka menjawab: "(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian." (QS. Asy Syu’araa 26:69-74)

Bahkan para pemuka-pemuka ajaran taklid itu pun menaruh curiga kepada para “Muballigh” dengan mengira bahwa para muballigh itu menginginkan kekuasaan atas mereka :

Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: "Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. (QS. Al Mu’minun 23:24)

Mereka justru menginginkan seorang malaikat agar datang langsung  di tengah-tengah mereka, untuk menyerukan jalan yang lurus kepada mereka. Ini justru pernyataan yang aneh juga, sebab Malaikat hanya ditakdirkan untuk berhubungan dengan orang Shaleh dan bukan kepada para penyembah yang bukan Tuhan.

Begitulah kerasnya hati para PENAKLID BUTA, yang tidak mempergunakan akal-nya untuk menemukan Tuhan SEJATInya.

Semoga setiap insan yang bertumbuh dewasa agar mendalami setiap agamanya untuk mengetahui secara mendalam, apakah jalan Imannya benar-benar ajaran Tuhan yang menciptakannya atau justru sebaliknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan Pesan, Saran dan Kritik anda yang membangun, walau hanya sepatah, dua patah kata.