Well Come

قـل هو اللــــه احــــــد. اللــــه الصمــــــد. لم يلــد و لم يولــــــد و لم يكــــــن لـــــــــــــــــــــه كفوا احــــــــد

Katakanlah : Dialah Allah, Tuhan yang Maha Esa, Tempat bergantung segala sesuatu, Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada satu pun yang setara dengan Dia (QS. Al Ikhlash)

Minggu, 16 Februari 2014

JALAN YANG LURUS

Di antara manusia, ada yang menganggap bahwa satu-satunya jalan lurus itu adalah orang yang dikenal bernama : Isa Al Masih putra Maryam yang suci. Keyakinan ini didasarkan pada sabda Nabi Isa dalam “terjemahan” Injil Yohanes yang berbunyi : “Akulah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada ‘Bapa’ kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6).

Dari sabda tersebut, mereka mengira bahwa tidak ada satu pun nabi yang berani menyatakan bahwa ia adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup itu selain dari pada Nabi Isa Al Masih, sehingga wajiblah bagi setiap manusia untuk mengikuti dan menerimanya sebagai “tuhan” dan juruselamat pribadinya.

Pemahaman ini tentu sangat sempit dan tidak dapat diterima oleh orang yang menggunakan akalnya tanpa mengkajinya lebih dalam lagi. Sabda Nabi Isa tersebut, mengajarkan kepada murid-muridnya saat itu bahwa “dialah (Nabi Isa AS)” satu-satunya jalan yang harus ditempuh untuk bisa “terhubung” dengan Tuhan, sebagai “super power” dari segala “power” di jagat raya ini.

Penjelasan sabda itu bagi orang yang berakal, tidak terhenti di situ saja, melainkan harus dikembangkan lagi kepada pemahaman yang lebih luas dengan “menyorot” apakah yang dimaksudnya sebagai jalan itu apakah “DIRINYA SENDIRI” atau “AJARAN YANG DIA BAWA”?

Dari pertanyaan tersebut, kita dapat menyediakan dua alternatif jawaban untuk memahaminya, yaitu :
1.    Jika Jalan yang dimaksudnya adalah DIRINYA SENDIRI maka : Wejangan-wejangan dan ajaran-ajaran yang dia sampaikan kepada para murid tidaklah berguna karena telah dihilangkan oleh pengaruh peran dirinya sendiri dalam mengantarkan para murid kepada sang Tuhan. Di sini, para murid berjiwa pasif dan hanya bertugas sebagai PENGHARAP belas kasih Isa dalam mengantar mereka, sekaligus terhenti ketika Isa telah tiada.
2.    Jika Jalan yang dimaksudnya adalah AJARAN YANG DIBAWANYA maka : PRIBADI nabi Isa Al Masih hanyalah suatu “pembawa” risalah Tuhan agar dipahami. Ajaran-ajaran dan wejangan-wejangan yang disampaikannya benar-benar berperan sebagai “petunjuk” untuk melangkahkan kaki menuju sang Tuhan sehingga barangsiapa yang mendengar dan menaatinya maka ia pasti akan sampai. Di sini, para murid bersifat AKTIF dan bertugas sebagai “PELAKSANA” amanat dari ajaran-ajaran yang disampaikan oleh sang Nabi, sekalipun Isa telah tiada dari antara mereka.

Dari kedua alternatif “jawaban” ini, yang paling berpengaruh dan tepat dalam pelaksanaannya adalah alternatif yang kedua. Di sana ditegaskan “PERAN AKTIF” para murid untuk bersungguh-sungguh “mendengar dan mengikuti” ajaran-ajaran sang Nabi dan tidak dituntut untuk berpangku tangan mengharapkan untuk “DIANTAR” hingga ke tujuan yang mereka cari.

Jika alternatif yang pertama yang digunakan, maka sungguh ajaran-ajaran yang disampaikannya tidaklah perlu dipedulikan karena setiap yang mempercayainya senantiasa MENANTI dan MENGHARAP akan DIBAWA oleh sang Nabi kepada Tuhan yang mereka cari, asalkan mereka percaya, tetapi di dalam kitabnya, Yakobus menegaskan bahwa Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah MATI (Yak. 2 : 17).

Oleh karena itu, Jalan yang dimaksud dalam sabda tersebut adalah “AJARAN-AJARAN” yang telah ia sampaikan kepada para murid untuk ditaati dan dituruti, sehingga dapat sampai kepada Sang Tuhan yang mereka rindukan itu.

Ketika telah sampai pada tingkat pemahaman ini, maka seseorang melanjutkan pembahasannya untuk memastikan “ajaran-ajaran” apa sajakah yang disampaikan Nabi Isa Al Masih semasa ia bersama-sama dengan murid-muridnya?.

Semasa hidup nabi Isa Al Masih, ajaran-ajaran yang ia sampaikan pada intinya hanya terdiri dari dua hukum dan satu persaksian sejati, dimana semua para nabi yang diutus mengajarkan hal yang sama. Adapun kedua hukum serta satu persaksian sejati itu adalah sebagai berikut : 

1.         HUKUM YANG DUA
Hukum yang dua yang diajarkan Nabi Isa AS adalah :
a.         Mengasihi Tuhan dengan sepenuh akal budi
b.        Mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri
(Markus 12:30-31)
2.         PERSAKSIAN SEJATI
Persaksian sejati yang disampaikannya adalah yang menyatakan bahwa : Kehidupan yang Kekal itu hanya diperoleh dengan : Mengenal satu-satunya bahwa “Engkau” (ALLAH) adalah Tuhan yang BENAR dan mengenal bahwa “Yesus Kristus” adalah utusan-Mu (ALLAH). (Yoh. 17:3)

Pada tahap ini, seseorang telah mulai menyadari bahwa sesungguhnya “misi” para nabi adalah sama seperti “Misi” Yesus Kristus atau Isa Al Masih itu, mereka mengajarkan untuk “CINTA” akan TUHAN dengan sepenuh akal budi dan mengajarkan “Cinta” akan sesama seperti mencintai diri sendiri. 

Oleh : Al Faqir Billah Realis Akbarullah Gea.

Selasa, 11 Februari 2014

KEBEBASAN SEJATI



Kebanyakan manusia mengira bahwa hukum Tuhan justru memperkenalkan dosa sehingga manusia menjadi “berkehendak” untuk mendekati dan melakukannya, sehingga mereka mencari “jalan” untuk harus keluar dari ikatan itu. 

Mereka berasumsi, jika Tuhan melarang mencuri maka sesungguhnya Tuhan telah memperkenalkan “tindak kejahatan pencurian” sehingga manusia cenderung melakukannya. Begitu pula jika Tuhan melarang untuk melakukan “penipuan”, maka mereka berkata bahwa sesungguhnya Tuhan telah memperkenalkan penipuan kepada manusia. Untuk melengkapi asumsi itu, maka mereka memilih semboyan : “Lakukanlah apa yang engkau suka jika manusia melakukannya kepadamu”.

Semboyan itu sungguh menggiurkan hati, tapi tanpa kita sadari bahwa sesungguhnya ia memfokuskan ukuran kebaikan terletak pada “keinginan” manusia dan bukan lagi pada kehendak Tuhan.

Lihatlah bahwa semboyan itu mengajarkan manusia untuk :
1.    berupaya menyanjung sesamanya, karena ia ingin disanjung;
2.    berupaya bermulut manis, karena ia ingin disapa dengan manis;
3.    berupaya menyogok, karena ia ingin disogok;
4.    berupaya berbuat baik, karena ia ingin diperlakukan dengan baik;
5.    berupaya menggoda orang lain, karena ia ingin digoda oleh orang lain;
6.    dst, dst.
Sehingga perbuatan manusia semua terfokus pada “keinginan” yang saling berkaitan satu sama lainnya, tanpa menghiraukan kehendak dari sang Pencipta.

Lalu, semboyan apa yang harus dijunjung tinggi? Bukankah semboyan yang demikian itu sanggup menciptakan kedamaian satu sama lain? Tidak! Semboyan itu hanya terfokus pada ikatan manusia terhadap manusia, tanpa kepedulian akan ikatan kepada Tuhan. 

Lalu bagaimana semboyan yang lebih baik agar menjadi seimbang? Semboyannya adalah : “Lakukanlah apa yang disukai Tuhanmu”. Pada semboyan ini, ukuran kebaikan bukan terletak pada “kehendak” manusia, melainkan terletak pada “kehendak” Tuhan. Namun, bagaimana kita tahu tentang “kesukaan” Tuhan? “SAUDARAKU, ANDA MENGENAL “KEHENDAK” TUHAN PADA HUKUM-HUKUM YANG DIA TETAPKAN”.

Lihatlah bahwa semboyan ini mengajarkan bahwa :
1.    Tuhan menyukai manusia yang adil, maka lakukanlah! karena Tuhan menyukainya!
2.    Tuhan menyukai manusia yang menjaga tangan dan lidahnya, maka lakukanlah! karena Tuhan menyukainya!
3.    Tuhan menyukai manusia yang tidak mempersekutukan Tuhan, maka lakukanlah! karena Tuhan menyukainya!
4.    Tuhan menyukai manusia yang penuh dengan kasih sayang, maka lakukanlah! karena Tuhan menyukainya!
5.    Tuhan menyukai manusia yang tidak melakukan kerusakan di muka bumi, maka lakukanlah! karena Tuhan menyukainya!
6.    Dst, dst...

Intinya adalah : “ukuran kebajikan terletak pada apa yang disukai Tuhan”, sehingga manusia tidak terikat lagi dari ikatan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Oleh karena itu, kebebasan bukan terletak pada bebasnya manusia melakukan apa yang disukainya, dan bukan pula terletak pada keinginan manusia untuk melepaskan diri dari ikatan hukum-hukum Tuhan, melainkan terletak pada terlepasnya hati dari ikatan duniawi, dan melekatnya hati pada urusan surgawi. Itulah kebebasan (Freedom) sejati yang harus diperjuangkan oleh setiap insan untuk diraih dan dimiliki tanpa batas. 

Oleh : Al Faqir Billah Realis Akbarullah Gea